Penggunaan asbes telah dilarang di berbagai belahan dunia karena sifatnya yang karsinogenik. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan kondisi yang bertolak belakang: material berbahaya ini masih dijual bebas dan digunakan secara luas. Atap semen gelombang mengandung asbes masih jamak ditemui di sekolah, pusat olahraga, pasar, hingga pemukiman warga.
Di tengah minimnya regulasi ketat, ancaman terbesar justru mengintai generasi muda—baik mereka yang mulai memasuki dunia kerja sebagai buruh konstruksi, maupun yang terpapar secara tidak sengaja di lingkungan domestik. Tanpa intervensi edukasi yang radikal, Indonesia sedang menabung bom waktu krisis kesehatan publik.
Bom Waktu Kesehatan: Mengapa Usia Muda Paling Rentan?
Semua enam bentuk utama asbes telah dinilai oleh Lembaga Kesehatan Dunia (WHO)[1] sebagai karsinogenik bagi manusia. Paparan asbes, termasuk krisotil, menyebabkan kanker paru-paru, laring, dan ovarium, serta mesotelioma (kanker pada selaput pleura dan peritoneum). Terdapat juga bukti ilmiah yang jelas bahwa asbes menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti asbestosis (fibrosis paru-paru), dan efek buruk lainnya pada paru-paru. Karena penggunaan asbes yang meluas, dan karenanya tingginya jumlah orang yang berpotensi terpapar bahan ini, asbes diperkirakan menyebabkan kematian dan gangguan kesehatan pada sejumlah besar orang setiap tahunnya.[2]
Ada kesalahpahaman umum bahwa penyakit akibat asbes hanya menyerang pekerja usia tua. Faktanya, Siapa pun yang terlibat dalam konstruksi, pemeliharaan, dan pembongkaran bangunan tempat asbes telah digunakan berpotensi berisiko, bahkan bertahun-tahun atau puluhan tahun setelah asbes dipasang. Karena masa inkubasi yang memakan waktu berdekade-dekade, anak-anak atau remaja yang terpapar hari ini kemungkinan besar baru akan merasakan gejalanya saat mereka mencapai usia produktif atau paruh baya.
Ancaman asbes kini tidak lagi terbatas pada dinding pabrik atau kawasan industri berat, melainkan telah mengintai di ruang-ruang yang sejatinya dianggap aman. Di lingkungan domestik dan publik, serat asbes berisiko terlepas ke udara saat bangunan seperti rumah atau sekolah direnovasi tanpa prosedur K3, serta melalui puing-puing beracun akibat bencana alam seperti gempa bumi dan banjir.
Selain paparan langsung di lingkungan sekitar, kaum muda dan anak-anak juga menghadapi risiko besar melalui jalur tidak langsung dan eksploitasi kerja. Serat asbes dapat terbawa ke rumah tanpa sengaja (take-home exposure) melalui pakaian, kulit, atau rambut orang tua yang bekerja di sektor konstruksi, sehingga membahayakan anggota keluarga yang menghirupnya. Kondisi ini diperparah di berbagai negara berkembang dengan penegakan hukum yang lemah, di mana pekerja anak kerap dieksploitasi di sektor konstruksi atau industri informal, memaksa mereka bekerja di tengah kepungan material berbahaya ini tanpa alat pelindung diri yang memadai.
Kolaborasi Komunitas Melalui Asbestos Collective Learning (ACL)
Menyadari rendahnya kesadaran publik dan tingginya risiko bagi generasi penerus, LION Indonesia mengambil langkah taktis. Berkolaborasi para anak muda dari berbagai organisasi akar rumput seperti Kawan Medis, Tahap.id, dan PSDK mereka menggelar program Asbestos Collective Learning (ACL 2026) pada April 2026 di Kota dan Kabupaten Bandung.
Program intensif ini menyasar para anak muda mulai dari mahasiswa dari berbagai jurusan khususnya kesehatan, jurnalis hingga relawan kebencanaan sebagai agen perubahan strategis dalam penghapusan penyakit akibat asbes di Indonesia.

Gerakan ACL mempertemukan para akademisi Kesehatan, praktisi dan aktivis dalam sebuah aksi kolaboratif yang intensif. Dimulai dengan pemaparan komprehensif mengenai bahaya anatomis asbes serta dampaknya dalam kehidupan urban sehari-hari, studi literasi dan kasus besar epidemi asbes dari berbagai negara yang telah menerapkan pelarangan total asbes seperti Uni Eropa, Australia dan negara-negara di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Berbekal pemahaman tersebut, para peserta memetakan akar masalah menggunakan metode problem tree guna merancang proposal aksi nyata.

Tidak berhenti di ruang belajar, ACL menjadi panggung inovasi bagi setiap peserta merancang proyek kampanye bersama. LION Indonesia bersama Kawan Medis dan Tahap.id, PSDK sepakat melebur ide-ide tersebut menjadi satu program kolektif yang sistematis. Rencana jangka menengah ini akan mengintegrasikan survei lapangan, sosialisasi kepada Masyarakat umum, penulisan karya ilmiah, hingga advokasi strategis ke Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kota dan Kabupaten di Bandung Raya demi mendorong lahirnya regulasi pelarangan asbes secara bertahap.

Memutus rantai paparan asbes di Indonesia tidak bisa hanya menunggu kesadaran pasar atau kerelaan industri. Edukasi kesehatan lingkungan bagi komunitas anak muda adalah kunci utama. Ketika calon dokter, bidan, perawat, jurnalis, mahasiswa, aktivis lingkungan dan relawan kebencanaan memahami bahaya laten ini, mereka tidak hanya melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga menjelma menjadi benteng advokasi yang akan menuntut hak atas lingkungan hidup yang sehat dan bebas asbes bagi generasi masa depan.
[1] https://www.who.int/publications/i/item/9789241564816
[2] https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/asbestos







