Digitalisasi, Ancaman PHK Hingga Kebangkrutan

Digitalisasi, Ancaman PHK Hingga Kebangkrutan

Pada awal 2019 lalu, PT Hero Supermarket Tbk menutup 26 gerai dan 532 karyawan Giant terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan harus dirumahkan, hingga mengakbatkan ribuan massa yang tergabung dalam Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia dan Serikat Pekerja Hero Supermarket (SPHS) menggeruduk Kantor PT Hero Supermarket Tbk di CBD Bintaro, sektor 7, Kota Tangerang Selatan pada Jumat (11/1/2019).

Dari kabar yang beredar, terapat enam supermarket Giant yang akan tutup pada 28 Juli 2019 mendatang. Diantaranya, Cinere Mall, Mampang, Pondok Timur, Jatimakmur, Cibubur, dan Wisma Asri. Kabar tersebut juga dibarengi dengan kabar bahwa buruh-buruhnya akan terkena PHK.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukmadani menegaskan bahwa efisiensi merupakan kunci agar suatu perusahaan yang bergerak dalam bisnis ritel bisa menjaga nafas usahanya. Hal tersebut disampaikan ia menanggapi perihal kasus penutupan 26 gerai milik PT Hero Supermarket Tbk pada kuartal III 2018 lalu yang berakibat pada PHK terhadap 532 karyawannya.

Maraknya kegiatan usaha online dalam bentuk e-commerce juga turun memainkan peran. Turunnya daya beli masuarakat juga berpengaruh terhadap melemahnya perusahaan bisnis ritel yang menerapkan kegiatan transaksi secara konvensional.

Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat cenderung beralih untuk melakukan transaksi secara daring lantaran faktor efisiensi. Pola belanja masyarakat dewasa ini berubah, masyarakat ingin lebih cepat dan efisien.

Selain itu, harga yang ditawarkan oleh toko daring atau e-commerce biasanya jauh lebih murah. Karenanya, masyarakat beralih ke e-commerce.
Awal mula penutupan ritel terjadi pada PT Modern Internasional Tbk yang memutuskan untuk menurut seluruh gerai ritel 7-Eleven (Sevel) pada Juni 2017. Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Manajemen saat itu mengungkapkan alasan penutupan disebabkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai.

Sejak 2016, gerai 7-Eleven secara perlahan menutup sebanyak 25 gerai. Lalu sebelum benar-benar tutup, sebanyak 30 gerai ditutup pada Maret 2017.

Namun, penutupan Sevel tersebut membawa persoalan baru bagi ratusan buruh yang kena PHK. Masalahnya, perusahaan tidak melunasi seluruh uang pesangon bagi mantan buruh Sevel. Berkali-kali buruh Sevel berdemo untuk menuntut haknya, namn hingga kini belum terselesaikan.

Setelah Sevel, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk yang menutup sekaligus delapan gerainya pada Agustus 2017. Seluruh gerai yang tutup tersebar di beberapa wilayah, seperti Banjarmasin, Bulukumba, Gresik, Bogor, Pontianak, dan Sabang.

Selanjutnya disusul oleh PT Matahari Departement Store Tbk yang tutup pada akhir September 2017 yang menutup dua tokohnya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak hanya memberikan manfaat dan peluang usaha. Namun, di sisi lain hal tersebut juga memunculkan kekhawatiran dan berdampak buruk bagi masyarakat.

Salah satu dampak negatif yang menjadi kekhawatiran bagi tenaga kerja yaitu PHK. Contohnya adalah kebijakan e-toll yang mengancam PHK 20 ribu pekerja yang selama ini bertugas di pintu tol. Yang kedua adalah ancaman kebangkrutan. Salah satu contoh yang terkena dampaknya adalah Nokia. Nokia gulung tikar akibat dari kurangnya respon terhadap perkembangan teknologi.

Perkembangan teknologi komunikasi digital akan merambah ke banyak sektor, mulai dari pengendalian perusahaan hingga usaha ritel.
Dampak dari tutupnya perusahaan ritel, tentunya banyak karyawan yang kehilangan pekerjaannya. Terlebih saat ini Indonesia sedang menghadapi era revolusi industri 4.0, tentuya akan semakin banyak buruh yang menjadi korban PHK, karena lapangan pekerjaan di Indonesia terancam tergantikan oleh otomatisasi.

Share This: