Fakta-Fakta Mengenai Asbes Chrysotile

Berikut ini adalah fakta-fakta yang mencerminkan pengetahuan mengenai asbes chrysotile (Asbes Putih),  satu-satunya jenis asbes yang masih dipasarkan.

 

 

Fakta 1 Selama dua dekade terakhir, chrysotile merupakan satu-satunya jenis asbes yang ditambang dan menjadi komoditas yang dipasarkan secara luas. Lebih dari 95% asbes yang dipasarkan selama seabad terakhir adalah jenis chrysotile. Data terakhir memperlihatkan penggunaan asbes di dunia mencapai 2 juta metrik ton per tahun (USGS, 2013).

 

Fakta 2 Chrysotile sering ditemukan terkontaminasi dengan asbes jenis amphibole, terutama tremolite (IARC, 2012). Namun, Kanada Chrysotile UICC, yang tidak mengandung tremolite, telah terbukti bisa mengakibatkan penyakit (Frank et al., 1998).

 

Fakta 3 Chrysotile telah terbukti mengakibatkan asbestosis, kanker paru, mesothelioma dan kanker laring dan ovarium (IPCS, 1998; WTO, 2001; IARC, 2012; WHO, 2014; Collegium Ramazzini, 2015).

 

Fakta 4 Data terakhir memperlihatkan beban global terkait kanker yang diakibatkan asbes diperkirakan sebanyak 194.000 orang meninggal pada tahun 2013, naik dari 94.000 orang pada tahun 1990 (kenaikan lebih dari 100%). Dampak kematian dan kecacatan akibat penyakit asbes tersebut (Tahun Hidup Tuna Upaya/DALYs) mencapai 3.402.000 – lebih dari 94% sejak tahun 1990. Angka ini merupakan 2/3 dari seluruh kasus kanker akibat kerja.

 

Fakta 5 Saat ini, setidaknya 55 negara telah melarang penggunaan semua jenis asbestos (IBAS, 2015)

 

Fakta 6 Tidak ada ambang batas mengenai jumlah minimal paparan asbes yang  aman bagi manusia untuk terbebas dari resiko penyakit akibat asbes –  termasuk juga paparan minimal chrysotile (Royal Commission, 1984; IARC, 1977, 2012; IPCS, 1998; IPCS 2004-2012; Collegium Ramazzini, 2015).

 

Fakta 7 Pada tahun 2001 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melaporkan bahwa: “Dewan panel juga meragukan keefektifan “pengendalian penggunaan” asbes chrysotile– yang terkandung dalam produk-produk bahan semen yang digunakan dalam industri bangunan dan swakarya. WTO menyatakan “… kami mencatat bahwa sifat karsinogenik serat chrysotile telah diakui untuk sekian lama oleh badan internasional. Sifat karsinogenik ini dikonfirmasi oleh para ahli terkait dengan kanker paru dan mesotheolioma, meskipun para ahli mengakui bahwa chrysotile berpotensi lebih rendah menyebabkan mesotheolioma dibandingkan amphibole. Kami juga mencatat bahwa para ahli mengkonfirmasi jenis-jenis kanker tersebut memiliki angka kematian yang mendekati 100%. Kami, dengan demikian, mempertimbangkan bahwa kami memiliki bukti yang cukup bahwa terdapat resiko karsinogenik yang serius terkait terhirupnya serat chryostile” (WTO, 2001).

 

Fakta 8 Terdapat bahan pengganti chrysotile yang lebih aman digunakan, sehingga dapat menghilangkan kebutuhan terhadap semua jenis asbes yang diperdagangkan (IPCS, 1998; Harrison et al., 1999; CSTEE, 2002; WBG, 2009; WHO, 2011; Collegium Ramazzini, 2015).

 

Fakta 9 Organisasi Buruh International (ILO) memutuskan bahwa:

“(a) penghentian penggunaan asbes di masa depan serta identifikasi dan penanganan asbes secara memadai yang saat ini dilakukan adalah cara paling efektif untuk melindungi buruh dari paparan asbes dan untuk mencegah penyakit dan kematian akibat asbes; dan

(b) Konvensi Asbes, 1986 (No. 162), seharusnya tidak digunakan untuk memberikan pembenaran untuk, atau sebagai dukungan, terhadap penggunaan asbes” (ILO, 2006).

 

Fakta 10 Pada Oktober 2013, Komisi Internasional Kesehatan Kerja (ICOH) menyatakan “Terdapat bukti yang cukup mengenai sifat karsinogenik semua jenis asbes di dalam tubuh manusia (chryostile, crocidolite, amosite, tremolite, actinolite, dan anthiphylite)” (ICOH, 2013).

 

Fakta 11 Pada 4 Juni 2012, Komite Kebijakan Bersama Masyarakat Epidemiologi (JPC-SE) setelah “mengulas dengan teliti bukti epidemiologi, menegaskan bahwa semua jenis serat asbes terlibat dalam pengembangan berbagai jenis penyakit dan kematian dini.” JPC-SE “menyerukan pelarangan secara global terhadap pertambangan, penggunaan dan ekspor semua jenis asbes” dan lebih lanjut JPC-SE menjelaskan “Seperti halnya industri tembakau, industri asbes telah membiayai dan memanipulasi penelitian untuk menghasilkan temuan-temuan yang menguntungkannya. Industri asbes membuat organisasi yang mengaku sebagai lembaga ahli ilmiah, seperti Canadian Chrysotile Institute, Russian Chrysotile Institute, and Brazilian Chrysotile Institute. Tetapi, mereka, pada kenyataannya adalah kelompok lobi yang mempromosikan kelangsungan penggunaan asbes.” (JPC-SE, 2014).

 

Fakta 12 Pada 2014, dalam sebuah pertemuan ilmuwan multi-displiner di Helsinki, Finlandia, para ahli sepakat bahwa semua jenis asbes menyebabkan kanker pada manusia dan “Untuk mencegah terulangnya epidemi penyakit akibat asbes pada para pekerja dan masyarakat di negara berkembang, penghentian penggunaan asbes jenis baru menjadi sangat penting” (Helsinki Declaration, 2014).

 

Fakta 13 Pada tahun 2015, Collegium Ramazzini (CR) menegaskan kembali pandangannya bahwa terdapat “dokumentasi yang membuktikan adanya ketersediaan bahan alternatif atas asbes, termasuk chrysotile, yang aman dan hemat biaya”. CR mendukung dua keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu keputusan pada tahun 2006 yang menyerukan penghentian penggunaan semua jenis asbes dan keputusan di tahun 2014, dalam publikasi WHO berjudul Chrysotile, yang menyatakan “semua jenis asbes, termasuk chrysotile, adalah penyebab meningkatnya resiko kanker paru, laring dan ovarium, mesotheolioma dan asbestosis” dan “temuan ini sejalan dengan evaluasi terkini oleh Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC).” (Collegium Ramazzini, 2015; WHO, 2006; WHO, 2014).

 

Fakta 14 Federasi serikat buruh termasuk Konfederasi Internasional Serikat Buruh (ITUC), Serikat Pekerja Bangunan dan Kayu Internasional (BWI), IndustriAll Global Union (IndustriAll) yang mewakili jutaan anggota serikat buruh di dunia telah menyerukan pelarangan asbes, program transisi yang adil bagi pekerja yang berhenti bekerja karena dampak  asbes dan langkah-langkah perlindungan terhadap pekerja dan masyarakat yang terkena dampak asbes.

 

 

(Fakta-fakta berikut terkait secara khusus mengenai resiko produk atap yang mengandung asbes.)

 

Fakta 15 Studi terakhir oleh Ferrante et al, 2015 “memberikan bukti yang kuat mengenai keterkaitan antara pleura mesothelioma dan penggunaan atap semen-asbes (OR=2.5, 95% CI 1.4 hingga 4.5) dan trotoar yang yang mengandung sisa asbes (OR=3.6, 95% CI 1.4 to 9.2) (Ferrante et al., 2015; Stayner, 2015)

 

Fakta 16 Mengakui bahaya asbes bagi kesehatan manusia dan pencemaran lingkungan dikarenakan rusaknya produk-produk yang mengandung bahan asbes pada saat bencana alam atau bencana ulah manusia, Kelompok Bank Dunia, organisasi humanitarian, dan Organisasi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) merekomendasikan bahwa produk-produk yang mengandung bahan asbes, termasuk produk bangunan semen-asbes tidak boleh digunakan dalam bantuan bencana (WBG, 2009; GSC, 2010; UNHCR, 2005).

 

Fakta 17 Terdapat bukti kuat mengenai terjadinya penyakit non-kerja akibat asbes sebagai dampak dari paparan asbes di dalam rumah tangga atau lingkungan;  khususnya, diantara anggota keluarga yang tinggal bersama buruh asbes (NIOSH, 1995; Ferrante et al., 2015; Stayner, 2015).

 

Fakta 18 “Untuk atap di daerah terpencil, ubin beton ringan dapat dibuat dengan menggunakan semen, pasil dan kerikil; dan pilihan lain, serat tanaman yang tersedia di daerah tertentu seperti yute, rami, hemp, sisal, sawit, sabut kelapa, kenaf (yute jawa), dan bubur kayu.  Seng dan ubin tanah liat adalah bahan alternatif lainnya. Sedangkan untuk pengganti pipa semen-asbes adalah pipa besi, pipa polythylene tekanan tinggi, dan pipa semen dengan kabel metal penguat.” (CR, 2015; WBG, 2011; WHO, 2009).

 

Fakta 19 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) “mempertimbangkan bahwa bukti yang ada cenderung memperlihatkan penanganan produk semen-chrysotile mengandung resiko terhadap kesehatan dan bukan sebaliknya (penekanan ditambahkan)” (WTO, 2001).

 

Fakta 20 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan “Keberlanjutan penggunaan semen asbes dalam industri konstruksi perlu mendapatkan perhatian khusus, karena tenaga kerja yang terlibat sangat besar, sehingga sulit untuk mengendalikan paparan para pekerja terhadap asbes; dan produk asbes yang digunakan memiliki potensi untuk lapuk dan mengandung resiko bagi mereka yang melakukan perbaikan, perawatan dan penghancuran terhadap produk tersebut. Dalam berbagai penggunaannya, asbes dapat digantikan dengan beberapa bahan serat dan produk lainnya yang mengandung resiko lebih rendah atau tanpa resiko terhadap kesehatan” (WHO, 2006).

 

 

Rangkuman Fakta: Sepanjang 30 tahun terakhir, organisasi ilmiah dan badan-badan pemerintah mengulas data-data yang dipublikasikan mengenai asbes secara menyeluruh dan seksama serta menyimpulkan bahwa semua jenis serat komersial (termasuk amosite, anthopyllite, actinolite, chryosotile, crocidolite dan tremolite) menyebabkan penyakit dan kematian akibat dari asbestosis, kanker paru, mesothelioma serta kanker laring dan ovarium. Belum teridentifikasi tingkat aman dari paparan semua jenis asbes. Hal ini terlihat dari tidak adanya ambang batas minimal yang aman bagi semua orang untuk terbebas dari resiko penyakit akibat asbes. Oleh karena itu, kami mendukung pelarangan penggunaan semua jenis produk yang menggunakan bahan baku asbes jenis apapun sesegera mungkin, termasuk yang mengandung chrysotile, dan menyerukan penghentian penggunaan asbes secara keseluruhan.

 

 

Referensi

BWI, 2014. World Board Resolution on Asbestos. Building and Woodworkers International. May 14.
http://www.bwint.org/default.asp?index=5538

Collegium Ramazzini, 2015. The Global Health Dimensions of Asbestos and Asbestos- Related Diseases. Castello di Bentivoglio, Via Saliceto, 3, 40010 Bentivoglio , Bologna, Italy.

CSTEE, 2002. Risk to human health from chrysotile asbestos and organic substitutes. Scientific Committee on Toxicity, Ecotoxicity and the Environment (CSTEE). The Opinion of EU committee about the human risk of organic fibers (Cellulose, PVA, p-Aramid) as asbestos substitutes. Brussels, C2/GF/csteeop/Asbestos 17122002/D(02), 17 December.

Ferrante D, Mirabelli D, Tunesi S, et al., 2015. Pleural mesothelioma and occupational and non-occupational asbestos exposure: a case-control study with quantitative risk assessment. Occup Environ Med, Published Online First: 11 Aug 2015 doi:10.1136/ oemed-2015-102803

Frank AL, Dodson RF, Williams MG, 1998. Carcinogenic implications of the lack of tremolite in UICC Reference Chrysotile. Am J Indust Med. 34: 314-317.

GBD, 2015. Global, regional, and national comparative risk assessment of 79
behavioural, environmental and occupational, and metabolic risks or clusters of risk in
188 countries, 1990-2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study
2013. Lancet. Published Online September 10, 2015. http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(15)00128-2/fulltext

GSC, 2010. Asbestos in Emergencies: Safer Handling and Breaking the Cycle.
Harrison TCP, Levy SL, Patrick G, Pigott GH, Smith LL, 1999. Comparative hazards of chrysotile asbestos and its substitutes: A European perspective. Envir Hlth Perspect; 107: 607- 611.

Helsinki Declaration, 2014. The Helsinki Declaration on Management and Elimination of Asbestos-Related Diseases. Adopted by the International Conference on Monitoring and Surveillance of Asbestos-Related Diseases, 10-13 February 2014, Finnish Institute of Occupational Health and International Commission on Occupational Health Espoo, Finland. http://www.ttl.fi/en/international/conferences/helsinki_asbestos_2014/Documents/20%20Marc h%202014%20Final%20Signed%20Declaration%20for%20website.pdf
IARC, 1977.

IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risk of Chemicals to Man- Asbestos. Vol. 14. International Agency for Research on Cancer, World Health Organization, Lyon, France, pp. 106.

IARC, 2012. International Agency for Research on Cancer. IARC Monographs Volume 100C: Arsenic, Metals, Fibres and Dusts; A Review of Human Carcinogens. http://monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/vol100C/mono100C.pdf

IBAS, 2015. Current Asbestos Bans and Restrictions, Compiled by Laurie Kazan-Allen. International Ban Asbestos Secretariat, 2015. http://www.ibasecretariat.org/alpha_ban_list.php
ICOH, 2013.

ICOH Statement: Global Asbestos Ban and the Elimination of Asbestos-Related Diseases. International Commission on Occupational Health. http://www.icohweb.org/site_new/multimedia/news/pdf/ICOH%20Statement%20on%20globa l%20asbestos%20ban.pdf

IndustriAll, 2014. Asbestos is a Killer. IndustriAll and BWI. 2014.
http://www.industriall-union.org/sites/default/files/uploads/documents/Asbestos/a4_asbestos_8pp_en_web.pdf

IPCS 2004-2012. Chrysotile. IPCS INCHEM, International Programme on Chemical Safety. Prepared in the context of cooperation between the International Programme on Chemical Safety and the European Commission.

IPCS, 1998. Environmental Health Criteria 203 – Chrysotile Asbestos. International Programme on Chemical Safety, United Nations Environment Programme, the International Labour Organisation, and the World Health Organization, Geneva; WHO. http://www.inchem.org/documents/ehc/ehc/ehc203.htm

ITUC, 2006. Adopted by the Founding Congress of the ITUC [International Trade Union Confederation] Vienna, November 1–3, 2006). http://www.ituc-csi.org/IMG/pdf/Programme_of_the_ITUC.pdf

JPC-SE, 2012. Position Statement on Asbestos from the Joint Policy Committee of the Societies of Epidemiology (JPC-SE), June 4. https://www.ijpc-se.org/documents/03.JPC-SE-Position_Statement_on_Asbestos- June_4_2012-Full_Statement_and_Appendix_A.pdf

Royal Commission, 1984. Report of the Royal Commission on Matters of Health and Safety Arising from the Use of Asbestos in Ontario. Authors: Dupre JS, Mustard JF, Uffen RJ. , Ontario Ministry of the Attorney General, Queen’s Printer for Ontario , Toronto.

Stayner LT, 2015. Para-occupational exposures to asbestos: lessons learned from Casale Monferrato, Italy. Occup Environ Med, Published Online First: doi:10.1136/oemed-2015- 103233
UNHCR, 2005. Procurement and use of material containing asbestos for UNHCR-funded projects. United Nations High Commissioner for Refugees. Inter-Office Memorandum No. 025/2005. 29 March.

USGS. 2013. Minerals Yearbook: Asbestos. United States Geological Survey [Advance Release], U.S. Department of the Interior. http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/asbestos/myb1-2013-asbes.pdf

Van Zandwijk N, 2012. A Third Wave of Asbestos-related Diseases in Australia: Preventive Actions Urgently Needed. 5th Asian Asbestos Initiatives International Seminar, Busan, Republic of Korea.

WBG, 2009. Good Practice Note: Asbestos: Occupational and Community Health Issues, May, World Bank Group. http://siteresources.worldbank.org/EXTPOPS/Resources/AsbestosGuidanceNoteFinal.pdf

WHO, 2006. Elimination of Asbestos-related Diseases. World Health Organization. http://whqlibdoc.who.int/hq/2006/WHO_SDE_OEH_06.03_eng.pdf?ua=1

WHO, 2011. National Programmes for Elimination of Asbestos-Related Diseases: Review and Assessment 07-08 June 2011, Bonn. Annex 4: Review of substitutes for asbestos construction products by a WHO-temporary advisor, World Health Organization Regional Office for Europe: pp 22-29. http://www.euro.who.int/__data/assets/pdf_file/0005/176261/National-Programmes-For- Elimination-Of-Asbestos-related-Diseases-Review-And-Assessment.pdf

WHO, 2014. Chrysotile Asbestos. World Health Organization. http://www.who.int/ipcs/assessment/public_health/chrysotile_asbestos_summary.pdf

WTO, 2001. European Communities-Measures Affecting Asbestos and Asbestos- Containing Products. AB-2000-11. World Trade Organization. 12 March. https://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/135abr_e.pdf

 

DITANDATANGANI OLEH:

  1. RICHARD A. LEMEN, PhD, MSPH, Assistant Surgeon General (ret.), Rear Admiral, USPHS (ret.); Adjunct Professor, Rollins School of Public Health, Emory University, Atlanta, GA, USA
  2. KEN TAKAHASHI, MD, PhD, MPH, Professor of Environmental Epidemiology, Director of the WHO-CC for Occupational Health, IIES, Director of the International Center, University of Occupational and Environmental Health, Japan

PROF. MOHAMED F JEEBHAY, MBChB, MPH, PhD, Occupational Medicine Physician and Director of the School of Public Health and Family Medicine, University of Cape Town, South Africa

  1. TUSHAR KANT JOSHI, FRCS, FFOM, Director, OEM Programme, Centre for Occupational & Environmental Health, Maulana Azad Medical College, New Delhi, India; Former Occupational Health Consultant, WHO India; Fellow, Collegium Ramazzini; Visiting Professor, Occupational Health, Drexel University, USA
  2. COLIN L SOSKOLNE, Professor emeritus, University of Alberta, Edmonton, Canada; Adjunct Professor [July 1, 2013 – June 30, 2016], Faculty of Health, University of Canberra, Australia; Chair, International Joint Policy Committee of the Societies of Epidemiology (IJPC- SE)
  3. DOMYUNG PAEK, MD, MSc, ScD, Professor, Former Dean, School of Public Health, Seoul National University, Korea; Former President, Korean Society of Environmental Health
  4. DARIO MIRABELLI, MD. Unit of Cancer Epidemiology, University of Turin (Italy) and CPO Piemonte

CATATAN: Titel dan afiliasi disebutkan hanya untuk mengidentifikasi saja.

 

Share This:

Leave a Comment