Solidaritas Tanpa Batas: Buruh Indonesia dan Laos Bersatu untuk Tempat Kerja Bebas Asbes

·

·

,

Penyakit akibat paparan asbes tidak mengenal batas negara. Serat berbahaya ini dapat mengintai pekerja di berbagai sektor industri, dari konstruksi hingga manufaktur. Namun demikian, perjuangan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja juga melampaui sekat geografis. Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) bertajuk Asbestos Containing Materials Removal and Disposal” yang diselenggarakan pada 11–12 Februari 2026 di Laos.

Kegiatan ini digelar oleh Departemen Perlindungan Tenaga Kerja Federasi Serikat Pekerja Laos bekerja sama dengan APHEDA Laos sebagai bagian dari proyek “Mempromosikan keselamatan dan kesehatan pekerja dari penggunaan asbes menuju penghapusan penyakit akibat asbes di Laos”. Pelatihan tersebut dihadiri lebih dari 16 peserta perwakilan dari Federasi serikat pekerja dan buka langsung oleh Bapak Khamchan Sivanthong, Wakil Kepala Departemen Perlindungan Tenaga Kerja Laos Tengah, serta Ibu Vilada Phomduangsi selaku Kepala APHEDA Laos.

Asbes adalah serat mineral yang banyak digunakan secara komersial, tetapi berbahaya karena menyebabkan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun di dunia. Menurut WHO[1], semua jenis asbes dapat memicu asbestosis, kanker paru, mesothelioma dan penyakit pernapasan kronis lainnya. Risiko paparan terutama dialami pekerja konstruksi, pemeliharaan, hingga pembongkaran bangunan yang mengadung asbes. Penyakit akibat asbes dapat dicegah dengan menghentikan penggunaannya, menggantinya dengan bahan yang lebih aman, serta melindungi pekerja saat pemeliharaan dan proses penghapusan asbes.

Kolaborasi Lintas Negara

Dalam semangat solidaritas internasional, dua pakar dari Indonesia, Muchamad Darisman dan Ajat Sudrajat dari Ina-Ban Network dan LION Indonesia, hadir sebagai narasumber utama. LION Indonesia merasa terhormat dapat berbagi pengalaman sekaligus belajar bersama para calon pelatih dari Federasi Serikat Pekerja Laos (LFTU).

Tujuan utama pelatihan ini adalah membangun lini pertahanan di garis depan—mencetak pelatih internal serikat buruh yang memiliki kapasitas teknis dan pengetahuan memadai untuk mencegah penyakit akibat asbes (Asbestos-Related Diseases/ARDS) di tempat kerja. Dengan memperkuat kapasitas serikat, diharapkan upaya pencegahan dapat menjangkau lebih banyak pekerja di berbagai sektor.

Para peserta mempraktekan pengenalan dan cara penggunaan alat pelindung diri yang benar dalam paparan asbes (Vientine Laos, 11 Februari 2026)

Materi Teknis dan Praktik Lapangan

Pelatihan selama dua hari ini tidak hanya berfokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga praktik langsung dalam lingkungan simulasi proyek pembongkaran. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai:

  • Identifikasi berbagai produk dan material yang mengandung asbes secara aman dan efektif.
  • Teknik penghapusan material asbes non-friabel (Kelas B).
  • Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.
  • Prosedur dekontaminasi dan pembuangan limbah secara benar.
  • Pelaporan temuan kepada pihak berwenang sesuai prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Unit kompetensi pelatihan menetapkan hasil pembelajaran yang mencakup persiapan, penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk paparan asbes, hingga penghapusan material mengandung asbes non-friabel (ACM), sekaligus memastikan limbah dikelola sesuai norma sistem manajemen keselamatan kerja agar tidak membahayakan pekerja maupun lingkungan.

Para peserta pelatihan melakukan praktek simulasi pembongkaran produk atap mengandung asbes secara aman (Laos, 12 Februari 2026)

Tantangan Regulasi di Laos

Karena penggunaan asbes yang meluas, dan karenanya tingginya jumlah orang yang berpotensi terpapar bahan ini, asbes diperkirakan menyebabkan kematian dan gangguan kesehatan pada sejumlah besar orang setiap tahunnya. Namun, salah satu tantangan utama adalah belum adanya regulasi yang sangat spesifik di Laos terkait penghapusan material mengandung asbes sebagai bahan berbahaya dan beracun. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah negara yang telah menerapkan pembatasan ketat bahkan pelarangan total penggunaan asbes. Hal ini membuat inisiatif pelatihan dari serikat pekerja dan para pemangku kepentingan menjadi sangat krusial.

Padahal, data menunjukkan bahwa sejak 2010 hingga 2022, Laos telah mengonsumsi sedikitnya 10.250 ton meter kubik bahan baku asbes. Dengan jumlah penduduk 7.749.595 jiwa (2022), rata-rata konsumsi asbes setara sekitar 1,3 kilogram per penduduk. Angka ini menjadi pengingat bahwa potensi risiko kesehatan masyarakat tidak bisa diabaikan. Sehingga, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya penting untuk melindungi masyarakat khususnya pekerja di Laos hari ini dan di masa depan.

Dukungan Internasional

Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) yang bermitra dengan  Asbestos and Silica Safety and Eradication Agency (ASSEA) serta APHEDA. Dukungan juga datang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Laos yang memfasilitasi penerjemah guna memastikan transfer pengetahuan berjalan optimal.

Solidaritas lintas negara ini membuktikan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah isu global yang memerlukan kolaborasi bersama. Ketika buruh saling menjaga dan memperkuat kapasitas satu sama lain, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi.

Pelatihan ini menjadi langkah penting menuju penghapusan penyakit akibat asbes di Laos dalam jangka panjang. Dengan memperkuat peran serikat buruh sebagai garda terdepan perlindungan pekerja, harapan akan tempat kerja yang aman dan bebas asbes semakin nyata.


[1] https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/asbestos


Latest Posts