Sydney, 03/03. Mendarat di Sydney International Airport melanjutkan perjalanan 30 menit kita akan sampai pada lokasi Darling Harbor. Pelabuhan yang dahulu dikenal dengan nama pelabuhan Tumbalong yang telah ada pada masa suku asli Gadigal di Australia tempat masyarakat menemukan aneka makanan laut. Bangsa Eropa yang mendatangi wilayah ini awalnya menamakan kawasan ini sebagai cockle bay karena banyaknya sisa sisa kerang dan tiram yang di temukan disini. Baru pada sekitar tahun 1826 Gubernur Ralph Darling menamakan pelabuhan ini menggunakan namanya
“Selamat datang di tanah aborigin, tempat dimana keberagaman kehidupan dihargai,” ucap warga senior paman John Duku, saat menyambut delegasi Konfrensi Asbes 2026 di Dolton House, Jones Bay Warf. Warga senior ini juga mengulas ringkas bagaimana suku asli yang dahulu puluhan ribu orang bisa terus berkurang karena virus penyakit yang ikut terbawa oleh gelombang masuk bangsa-bangsa lain seperti Eropa. Kini warga asli semakin sedikit namun mereka sangat menerima kedatangan bangsa lain untuk tujuan-tujuan kemanusiaan dan perdamaian.
Gedung tempat Konfrensi Asbes 2026 berada di pelabuhan dengan arsitektur gedung baru yang bergaya modern-industrialis. Besi-besi besar dan kayu ulin asli Australia mendominasi desain bangunan yang akan dipakai dalam konfrensi kebijakan yang berlandaskan keilmiahan. Bangunan ini adalah milik keluarga keturunan Italia yang juga mendirikan yayasan Biaggio Signorelli.
“Ayah saya adalah generasi pertama keluarganya yang Mengikuti kapal yang akan berangkat ke Australia sekitar tahun 1950an. Sesampainya di tanah bangsa Aborigin inilah dia bertekad untuk melanjutkan hidupnya. Dia menanam bahan pangan di halaman rumah dan menjadi kuli di proyek pembangunan yang saat itu gencar,” ucap Paul Signorelli OAM, anak Biaggio Signorelli yang mendirikan kelompok bisnis Dolton House Group.
Yayasan Biaggio Signorelli sendiri adalah yayasan yang berkonsentrasi untuk membantu penderita Mesothelioma akibat asbes, membangun kesadaran bahaya asbes, deteksi dini penyakit, hingga mendorong pengobatan Mesothelioma.
Nama Biaggio Signorelli dipakai oleh yayasan ini sebagai pencatat sejarah bahwa ada seorang bapak Italia yang menjadi korban asbestos karena ketidaktahuannya. “Sebagai pendatang, Biaggio Signorelli hanya berusaha untuk bertahan hidup, bekerja yang terbaik. Dia menanam untuk suplai makannya, dan bekerja pada industri yang sedang menggeliat di sekitar pelabuhan ini, saat itu,” ungkap Paul.

Paul menceritakan bahwa era dimana orang tuanya berada di Darling Harbor, adalah era dimana banyak sekali pembangunan sedang dilakukan. Asbestos sebagai “bahan ajaib” material bangunan saat itu begitu populer digunakan di industri maupun perubahan pribadi.
“Di pelabuhan ini debu asbestos bertebaran seiring bongkar muat yang terjadi. Asbes digunakan untuk membangun industri dan residensial di kota ini. Ayah saya seringkali pulang dengan badan yang berselimutkan debu halus asbestos,” katanya.
Paul menambahkan pada 2007 saat ayahnya menua, penyakit gangguan paru datang menghinggapi. Anehnya penyakit ini tidak dapat segera sembuh. Keadaan ekonomi yang telah jauh membaik bagi keluarganya ternyata tidak dapat menghantarkan kesembuhan bagi ayah tercinta. “Fasilitas kesehatan terbaik kami berikan. Saya yang menemani ayah hingga akhir khayatnya. Saya lihat betapa derita yang dia hadapi. Disanalah ayah memesankan untuk membantu orang-orang sepertinya,”
Kini Yayasan Biaggio Signorelli telah membangun kerjasama korban asbestos negara-negara common wealth, membiayai berbagai penelitian untuk menemukan pengobatan, deteksi dini mesothelioma, dan teknologi penting terkait pengobatan mesothelioma. Berbagai upaya pendanaan dilakukan oleh yayasan untuk dapat terus berkiprah agar tidak ada korban penyakit akibat asbes seperti orang tua mereka. Diantara gedung-gedung yang dipakai oleh google untuk berkantor, museum kota, lanskap bersejarah, hingga lokasi casino besar ini terselip sebuah gedung yang dipakai untuk melawan penyakit akibat asbes.
Aborigin telah menyumbangkan tanah indah hidupnya untuk berkembang kemanusiaan. Keluarga Signorelli mendedikasikan hasil hidupnya di Australia untuk melawan penyakit akibat asbes. Kedua legasi ini hadir tepat didepan mata. Bangunan indah dikawasan bisnis yang terkenal mahal ini kini mengumpulkan peneliti, pembuat kebijakan, inovator, pebisnis, hingga aktivis yang ingin masyarakat hidup sehat tanpa asbes.
Bagi Lion Indonesia satu-satunya delegasi NGO yang berasal dari negara manufaktur dan konsumen asbes internasional terbesar legasi yang ditunjukkan oleh Aborigin dan Keluarga Signorelli panggilan pengabdian bagi bangsanya.
“Lion Indonesia akan terus bekerja merangkai legasi yang dapat kami berikan buat bangsa Indonesia. Kalau Signorelli adalah korban akibat asbes, kami adalah korban kebijakan dan bisnis serakah yang berbahaya. Kita telah sama-sama memilih jalan untuk melawan penyakit akibat asbes” ucap Surya, Direktur Eksekutif Lion Indonesia.






