Konferensi Asbestos 2026 Australia Disusupi Agen Kampanye Krisotil

·

·

Sydney 04/03. Setiap tahun Australia menyelenggarakan konfrensi Asbestos dengan mendatangkan berbagai ilmuan dan industri inovatif dalam penanganan dampak bahaya asbestos. Ilmuan yang diundangpun dari berbagai negara yang telah melalui seleksi paper yang ketat untuk memperkuat langkah negara dalam melarang asbestos. Australia telah melarang asbestos secara total sejak 2003.

Pada konferensi tahun 2026 yang diselenggarakan di Sydney ilmuan yang dihadirkan datang  dari Amerika Serikat, Inggris, dan Polandia selain yang berasal dari Australia sendiri. Mereka menyampaikan berbagai hasil riset terbaru yang telah dilakukannya. Ada yang menyampaikan riset tentang penggunaan AI untuk mendeteksi keberadaan bahan mengandung asbes menggunakan  data besar hasil riset dan laporan negara. Ada juga riset tentang pengembangan spektrum gelombang warna untuk membedakan asbestos dengan bahan kimia lainnya.

Demikian riset-riset terbaru tentang penelitian DNA, mRNA dan riset biologi kedokteran lainnya yang ikut dipresentasikan di dalam konfrensi selama 3 hari ini. Tidak ketinggalan juga presentasi karya-karya inovasi pencegahan, dan penanganan cemaran asbestos setelah pelepasan (removal).

Hampir semua penampilan riset-riset bernada sama mendudukkan asbestos dalam kategori material berbahaya yang harus dicegah dampak penyakitnya. Namun ada beberapa peneliti riset yang justru menampilkan hasil penelitian yang bernada mempertanyakan kebahayaan asbestos. Peneliti ini menampilkan riset yang mendorong adanya pembedaan yang ketat setiap jenis asbestos yang berdampak bagi kesehatan manusia.

Riset yang dilakukan oleh peneliti dari perusahaan Chemistry & Industrial Hygiene, Inc misalnya mengajukan tentang pentingya perhitungan elongasi partikel mineral (Elongate Mineral Particle). Dari penelitian bersama timnya dia meyakini bahwa ukuran asbestos yang kurang dari 5mikron tidak menghasilkan dampak terhadap kanker paru mesothelioma akibat asbestos.

Lebih jauh disampaikan oleh tim penelitinya bahwa penting untuk menetapkan berapa ukuran serat asbes dan bentuknya yang dapat menyebabkan mesothelioma. Amphibole dan serpentin asbestos yang memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda menurut peneliti ahli industrial hygenist ini akan menghasilkan dampak yang berbeda.

Karena itu menurutnya perlu memperbanyak penelitian yang memang memastikan dampak krisotil dan bukan hanya mendefinisikan secara umum bahwa semua asbestos bersifat karsinogenik seperti yang dilakukan selama ini.

Dalam banyak penelitian yang membuktikan karsinogenitas, menurut peneliti dari lembaga yang berkedudukan di Amerika Serikat ini dikatakan menunjukan sifat amphibol asbestos dan masih jarang dan diperdebatkan yang berasal dari krisotil.

Apa yang disampaikan peneliti ahli toksikologi dari lembaga di AS di dalam konferensi asbetos 2026 di Sydney ini juga pernah disampaikannya pada Rapat Umum Tahunan ke-38 Dewan Pendaftaran Ahli Higiene Kerja Kanada pada tanggal 12 Juni 2025. Bahkan peneliti ini aktif mempertanyakan keputusan FDA Amerika Serikat yang menetapkan kandungan talc asbestos penyebab kanker ovarium.

Senada dengan peneliti asal AS ini,  peneliti lain dari yang juga mengepalai lembaga American Society for Testing and Materials dan juga mantan wakil direktur international Asbestos Testing Laboratories (iATL) mengemukakan hal yang hampir senada. Penting menurutnya untuk terus memperbanyak pengujian yang melibatkan non-regulatory asbestos seperti krisotil asbestos.

Dalam pandangan peneliti yang mengaku telah melakukan pengujian atas ribuan sample dari tahun ketahun itu, sangat penting untuk mengenali kekhasan asbetos yang regulated (amphibole) dan non-regulated (chrysotile) untuk mengambil langkah progresif masa depan.

the inability to recognize and connect the dots among the international community’s efforts may be wastefully redundant and not be impactful (ketidakmampuan untuk mengenali dan menghubungkan upaya komunitas internasional mungkin sia-sia dan tidak berdampak),” ujarnya.

Bukan hanya dua peneliti dari AS yang mempresentasikan pentingnya melihat lebih dalam sifat, dan karakter material asbestos yang benar-benar berdampak mesothelioma. Peneliti dari Australia yang juga memperoleh beasiswa penelitian juga mempresentasikan hal yang hampir serupa.

Direktur Eksekutif Lion Indonesia, Surya Ferdian, mengatakan pendapat berbeda di kalangan akademisi adalah hal yang wajar dan sama-sama memiliki alas ilmiah yang mendukungnya. Namun demikian dia menegaskan menolak melihat ilmu akademik berdiri di ruang hampa yang bisa dilihat netral dan bebas kepentingan. Menurutnya ilmu harus berpihak pada kepentingan besar kemanusiaan dan bukan sebaliknya atau semata-mata ilmu untuk ilmu.

“Saya teringat ada buku How Lie with statistics, ini bukti kecil kita bisa berbohong dengan basis statistik yang bagus. Kita juga bisa membuat framing penelitian untuk tujuan tertentu. Pertanyaannya apakah hasil penelitian kita akan bermanfaat bagi korban akibat asbestos?” gugatnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan karakter akademik untuk meragukan sesuatu kenyataan adalah karakter yang tepat bagi masyarakat akademik. Namun bagi masyarakat umum hal ini menurutnya hanya akan menghasilkan keraguan yang semakin besar dan memunculkan bias keyakinan. “Karena penelitiannya dari negara maju ya sudah kita yakin bagus misalnya,” ucapnya.

Secara kritis dia menilai bahwa memunculkan keraguan bahwa “semua asbestos karsinogenik” sebagaimana hasil penelitian IARC dan WHO, disaat dominasi eksportir asbestos juga melakukan kampanye untuk tidak memasukkan krisotil ke dalam daftar tambahan III Konvensi Rotterdam justru memperlihatkan kemana arah penelitian tersebut ditujukan.

“Kita tidak menutup mata bahwa penelitian harus terus dilakukan. Namun kita juga perlu melihat konteks global bahwa ada negara tertentu yang gigih untuk membangun keraguan tentang upaya pencegahan bahaya semua jenis asbestos. Belum cukup kuatnya bukti krisotil penyebab mesothelioma bukan berarti dia tidak menjadi penyebab. Mencegah kebahayaan dengan meregulasi ketat adalah cara menyelamatkan kemanusiaan,” tegasnya. 

Direktur Eksekutif Lion Indonesia mengingatkan adanya sekelompok orang dari negara tertentu yang aktif menawarkan kerja sama penelitian untuk terus membangun keraguan tentang karakter asbestos yang dikatakan secara umum bersifat karsinogenik. Kerja sama penelitian yang demikian menurutnya bagus dalam hal memajukan ilmu pengetahuan di negara yang diajak kerja sama. Namun dia juga akan menjadi predatori jika hanya dilakukan hanya bertujuan demi memperkuat keraguan akan kebahayaan terhadap semua jenis asbestos.

“Bagi Indonesia saat ini yang terpenting adalah meneliti dampak kesehatan para pekerja dan mantan pekerja industri asbestos yang kita tahu digunakan mayoritasnya untuk menghasilkan produk bahan bangunan. Daftar mereka itu bisa ribuan orang yang mungkin sudah terkena penyakit akibat asbes apapun jenisnya namun tidak dikenali,” tegasnya.

Menurutnya meneliti penyakit-penyakit yang diderita pekerja dan mantan pekerja industri manufaktur asbestos beserta keluarganya saat ini menjadi penting. Sudah lebih dari 30 tahun industri demikian berjalan dan laporan penyakit akibat asbes di Indonesia sangat langka di temukan.

“Ketimbang kita memulai dengan membedakan jenis asbes dengan asumsi dampak kesehatan, lebih baik kita kumpulkan dampak kesehatan akibat paparan asbes di industri-industri yang telah ada puluhan tahun itu, baru kita lakukan penelitian lanjutannya,” pungkasnya.


Latest Posts