Kerja Penata Rambut Terkena Penyakit Akibat Asbes

·

·

Sydney 04/03. Siapa yang pernah menyangka bahwa di saat semestinya seseorang berbahagia karena baru saja menikah dan menunggu kelahiran anak, justru menjadi awal berita kemalangan.

Heather Von St James pada Asbestos Conference 2026 di Sydnet, Australia, Maret 2026

Hal ini dialami Heather Von St James, seorang penyintas kanker paru mesothelioma akibat debu asbestos. Pekerjaanya saat itu sebagai penata rambut tidak memungkinkan adanya pajanan debu asbes. Apalagi tempat kerjanya pun bukanlah tempat yang di kelilingi dengan debu asbestos.

“Batuk dan sesak yang saya rasakan awalnya saya pikir penyakit biasa. Tidak kunjung sembuh, akhirnya pemeriksaan dilakukan makin detail. Hasil Scan MRI mengatakan ada pleura mesothelioma di paru. Saya ditetapkan kanker paru, dan diprediksi sisa usia saya 15 bulan jika diam, saya hancur,” ucap Heather.

Heather menjelaskan berbagai jalan pengobatan yang diusulkan oleh rumah sakit untuk mengatasi masalahnya. “Anak saya baru usia 3 bulan saat itu, butuh Ibu untuk hidupnya,” tegas heather. Rumah sakit menawarkan kemoterapi dan radiasi untuk memberi harapan tambahan usia 5 tahun baginya. Tawaran lainnya adalah melakukan operasi terhadap pleura-nya yang memungkinkan tambahan usia 7-15 tahun.

Bersama suaminya, akhirnya Heather (36 tahun) memutuskan untuk melakukan operasi. Keduanya berangkat ke Boston dari kota tempat tinggalnya di Minnesota yang berjarak 1,400 mil. Bukan hanya operasi, Heather juga harus menjalani 4 kali kemotrerapi, dan 20 sesi radiasi di Boston.

Heather terpapar asbestos dari pakaian yang dipakai ayahnya bekerja pada proyek konstruksi dimana sang bapak menyemprotkan asbes untuk insulasi. Dia menggambarkan periode latensi penyakit yang di deritanya sudah berlangsung sejak dia masih remaja ketika dia senang menggunakan jaket ayahnya. “A jacket I would wear because it didn’t matter if it got dirty. This jacket had asbestos dust all over it,” ujarnya.

Beruntung Heather hidup di negara maju yang pengetahuan dan teknologinya lebih dapat diandalkan, sudah lebih dari prediksi dokter 15 tahun. Heather masih tampak aktif walaupun suaranya terganggu saat di temui di Konferensi Asbestos 2026 di Sydney. Dia kini membuat yayasan untuk menggalang support bagi korban penyakit akibat asbes lainnya yang menderita sepertinya.

Direktur Eksekuti Lion Indonesia, Surya Ferdian, menjelaskan, kondisi berbeda akan dihadapi jika seorang korban penyakit akibat asbes berasal dari negara yang memang terlampau cuek terhadap warga negaranya. Perkembangan teknologi dan pengetahuan tentang bahaya asbes pun masih teraa terlambatl. Ditambah dengan sistem kesehatan yang tidak memadai, riset yang lemah untuk mengenali penyakit dan mekanisme kompensasi yang juga simpang siur.

“Apa yang kami pelajari dari korban penyakit akibat asbes di Indonesia yang kami advokasi adalah, mereka mengalami masalah kesehatan, ekonomi keluarga, sosial dan lainnya. Problem korban ini kompleks, namun sumber daya kita sangat terbatas,” ucapnya.

Surya mengatakan sistem jaminan kesehatan di Indonesia saat ini baru menempatkan penyakit akibat asbes yang berasal dari hubungan kerja. Orang seperti Heather yang tidak berhubungan langsung di dalam pekerjaannya mungkin tidak akan dapat menikmat jaminan kesehatan. Jika heather memang benar pekerja indsusti manufaktur asbes dan sudah pensium atau PHK maka jarak tanggungannya hanya sampai 3 tahun setelehnya.

“Indonesia masih mengembangkan model jaminan kesehatan untuk para pengidap penyakit akibat asbes agar tetap dapat menikmati layanan prima. Saat ini memang korban ARD di Indonesia masih mengeluhkan mekanisme jaminan kesehatan apalagi setelah mereka pensium,” jelas Surya.

Pada konferensi asbestos 2026, forum supporter korban asbestos mengadakan side meeting dan menceritakan situasi masing-masing negara. Side meeting ini dipakai untuk saling berbagi pemahaman tentang situasi dan kondisi yang dialami korban penyakit akibat asbes. Hadir dalam pertemuan tersebut, asosiasi korban asbestos dari Inggirs, Amerika Serikat, Laos, Malaysia, Polandia, Indonesia, dan Australia sendiri.

“Apa yang saya sampaikan  disini bukan suara korban, Karena saya merasa tidak pantas untuk mewakili kompleksitas perasaan para korban ARD di Indonesia. Saya menyampaikan apa yang Lion pelajari dari situasi kesehatan, ekonomi, sosial, dan psikologi para korban. Saat negara belum siap mengayomi korban, maka forum-forum bersama seperti ini menjadi penting bukan hanya berbagi kemalangan, namun harapan dan cita-cita bersama”


Latest Posts