Dalam upaya memperkuat kompetensi, kedisiplinan, dan perlindungan keselamatan relawan kemanusiaan, LION Indonesia berpartisipasi aktif dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Pramuka Peduli Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Bandung dari 14 hingga 26 Juli 2026.
Rangkaian kegiatan yang dimulai dari edukasi materi hingga Gladi Tangguh ini menjadi langkah awal strategis dalam membangun kesiapsiagaan anggota Pramuka Peduli menghadapi berbagai situasi kedaruratan serta aksi kemanusiaan di lapangan.
Selain menjadi wadah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, mempererat solidaritas, jiwa kepemimpinan, dan semangat gotong royong, kegiatan ini secara khusus membekali para relawan dengan pelatihan pencegahan dan keselamatan bahaya asbes bagi pekerja kemanusiaan di zona bencana.

Ancaman Tersembunyi di Zona Kedaruratan Bencana
Ketika bencana alam seperti gempa bumi, kebakaran hutan, badai, hingga banjir terjadi, tim tanggap darurat dan relawan merupakan garda terdepan yang pertama kali tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan. Namun, di balik misi kemanusiaan tersebut, terdapat ancaman kesehatan tak terlihat yang dapat berakibat fatal dalam jangka panjang, yaitu paparan zat karsinogenik dari asbes.
Semua bentuk asbes bersifat karsinogenik bagi manusia (WHO, 2018). Serat asbes yang terhirup dan mengendap di saluran pernapasan dapat memicu penyakit kronis, antara lain:
- Mesothelioma: Kanker ganas pada selaput pleura (paru-paru) dan peritoneum (rongga perut).
- Kanker Paru-Paru, Laring, dan Ovarium.
- Asbestosis: Fibrosis atau penebalan jaringan paru-paru yang memicu gangguan pernapasan berat.
- Kelainan Pleura: Plak, penebalan, dan efusi selaput paru-paru.
Asbes umumnya digunakan sebagai bahan campuran material bangunan, seperti atap semen bergelombang, ubin lantai, pipa semen dan insulasi. Saat bangunan tetap utuh, risiko bahayanya tergolong minimal. Namun, runtuhnya bangunan akibat bencana dapat merusak material tersebut dan melepaskan serat-serat asbes mikroskopis ke udara.
“Ketika bencana terjadi, yang pertama tiba sering kali adalah petugas kemanusiaan dan sukarelawan untuk evakuasi. Namun terdapat bahaya tidak terlihat yang dapat menyebabkan penyakit di masa depan, salah satunya paparan bahan kimia karsinogenik seperti asbes,” jelas Dhiccy perwakilan LION Indonesia.

Mengapa Paparan Asbes Akibat Bencana Sering Diabaikan?
Dalam situasi penanganan bencana, ancaman paparan asbes kerap kali luput dari perhatian relawan maupun masyarakat umum. Setelah bencana melanda, perhatian utama secara alami terfokus pada tindakan darurat seketika, seperti merawat korban luka/cedera, mencari tempat pengungsian yang aman, serta memulihkan fasilitas publik yang vital. Bahaya lingkungan yang bersifat sekunder seperti paparan asbes menjadi kurang terlihat dan sering kali tidak disadari.
Tidak seperti kerusakan akibat jamur atau bau asap pembakaran yang mudah dikenali oleh indra manusia, serat asbes tidak dapat dilihat ataupun dicium. Relawan dan warga dapat terpapar tanpa menyadarinya, terutama saat aktivitas pembersihan puing-puing ketika debu dan material rusak mulai terangkat ke udara.
Penyakit akibat paparan asbes tidak menimbulkan dampak kesehatan langsung secara seketika, melainkan membutuhkan waktu 10 hingga 50 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Masa laten yang begitu panjang ini membuat masyarakat jarang mengaitkan masalah kesehatan yang dialami puluhan tahun kemudian dengan paparan debu bencana di masa lalu. Hal inilah yang membuat tingkat kesadaran dan edukasi Sejak dini menjadi sangat penting.
Krisis Iklim dan Kerentanan Kawasan Asia-Pasifik
LION Indonesia juga menekankan bahwa perubahan iklim global kian memperburuk risiko bahaya lingkungan. Cuaca ekstrem yang makin sering terjadi berinteraksi langsung dengan infrastruktur bangunan menua yang terkontaminasi asbes.
Kawasan Asia-Pasifik menjadi wilayah yang paling rentan terhadap ancaman ini karena tingginya frekuensi bencana alam serta tingginya prevalensi penggunaan asbes pada konstruksi fisik. Fakta mencatat bahwa Indonesia merupakan satu dari tiga dari lima negara pengguna asbes terbesar di dunia berada di kawasan Asia-Pasifik.
Oleh karena itu, LION Indonesia memberikan pembekalan teknis kepada Pramuka Peduli mengenai Penanganan Aman yang meliputi Prosedur evakuasi dan pembersihan puing ber-asbes saat dan setelah bencana serta mendorong relawan bekerja sama dengan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran umum mengenai cara meminimalkan risiko paparan asbes.
Perubahan Paradigma Keselamatan Kerja Relawan
LION Indonesia menegaskan pentingnya pergeseran fokus keselamatan dalam penanganan kedaruratan bencana. Dalam penanganan keadaan darurat, keselamatan kerja sering kali berfokus pada trauma fisik mendadak, bukan pada paparan zat beracun seperti asbes. Hal ini harus diubah. Dengan kolaborasi ini, kami berharap para peserta pelatihan mendapatkan peningkatan kapasitas yang lebih. Semua berhak atas perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terlebih misi mulia para relawan dalam kegiatan kemanusiaan harus dapat terlindungi kesehatannya
Para peserta yang didominasi oleh anak muda menjadi sangat penting dalam menghadapi krisis iklim dan bencana alam karena selain mereka adalah kelompok yang paling lama menanggung dampak buruk kerusakan bumi di masa depan, juga menjadi garda depan untuk mencegah bencana yang lebih besar akibat krisi iklim.
LION Indonesia mengapresiasi antusiasme semangat dan persamaan visi para anggota Pramuka Peduli Kota Bandung selama pelatihan berlangsung. Kegiatan ini bukan yang pertama bagi kami bersama para pekerja tanggap darurat, dan kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut di masa depan.
Salam Tangguh!


