20 Tahun Pelarangan Asbes di Australia dan Perjuangan Terus Berlanjut

Asbes pertama kali digunakan di Australia pada tahun 1880-an. Selama abad berikutnya ketika debu asbes ditambang, diproduksi, dan digunakan secara luas di seluruh negeri, industri ini menerima paparan debu sebagai bahaya pekerjaan yang normal. Namun debu asbes sangat mematikan dan segera menimbulkan dampak buruk bagi mereka yang terpapar debu tersebut.

Penyakit yang berhubungan dengan asbes antara lain penyakit pleura, asbestosis, kanker paru-paru, dan mesothelioma ganas, yang dapat berkembang 20-50 tahun setelah serat asbes terhirup. Tidak ada obat untuk mesothelioma dan masa hidup setelah diagnosis bisa hanya 10-12 bulan.

Pada 31 Desember 2013, Australia melakukan pelarangan total asbes atau asbestos.  Meski telah lebih dari 20 tahun lalu, hal ini tidak secara langsung menghentikan bencana penyakit terkait asbes di negara tersebut. Saat ini setidaknya 4.000 warganya meninggal karena penyakit terkait asbes setiap tahunnya.

Menurut Australian Mesothelioma Registry, Australia merupakan salah satu negara dengan insiden mesothelioma tertinggi di dunia. Dikatakan bahwa peningkatan kasus yang stabil telah tercatat selama 40 tahun terakhir, dengan rata-rata dua warga Australia didiagnosis setiap hari dalam satu tahun terakhir saja. Segala upaya dan inovasi terus dilakukan bersama untuk penghapusan penyakit akibat asbes, tidak hanya di Australia tapi juga diseluruh dunia.

Saat ini Australia sedang memasuki gelombang ketiga. Dimana meskipun penggunaan produk-produk asbes baru telah berakhir, bahaya paparan serat asbes belum berakhir. Asbes masih bersembunyi di banyak bangunan di Asutrali sebagai warisan masa lalu. Seiring bertambahnya usia bahan bangunan yang mengandung produk asbes, hal ini menjadi lebih berbahaya karena serat yang terlepas dapat terlepas ke udara. Pekerja pembongkaran menghadapi paparan saat bangunan dirobohkan, dan harus bekerja dalam kondisi yang diatur secara ketat. Bahkan fasilitas publik seperti sekolah beratap semen asbes-pun berpotensi menjadi titik bahaya.

Penghapusan semua asbes dari sejumlah besar tempat kerja saat ini sedang dilakukan namun masih belum selesai. Artinya, paparan terhadap asbes terus berlanjut hingga saat ini dan merupakan bahaya yang dihadapi baik oleh pekerja konstruksi atau ahli renovasi rumah dan juga meeka yang tinggal disana. Hal ini berkontribusi terhadap gelombang ketiga penyakit terkait asbes yang disebabkan oleh paparan lingkungan. Risiko ini akan tetap ada sampai semua bahan yang mengandung asbes disingkirkan dari semua tempat kerja.

Dalam menghadapi gelombang ketiga dari ancaman bahaya asbes. Inovasi dan pengembangan teknologi terus dilakukan oleh Australia, salah satunya adalah dengan diselenggarakannya acara rutin seperti Asbestos 2024 Conference. Dengan slogan Inovasi Berkelanjutan, Asbestos Conference 2024 diselenggarakan untuk mengeksplorasi cara-cara baru untuk mengelola, menghilangkan dan membuang bahan-bahan yang mengandung asbes yang menua serta inovasi dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit terkait asbes.

LION Indonesia yang didukung oleh Union Aid Abroad – APHEDA dan International Ban Asbestos Secretariat (IBAS) mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk berpartisipasi dalam Asbestos Conference 2024. Bersama dengan delegasi lainnya dari Laos, Vietnam dan Kamboja, kami banyak belajar dan saling berbagi perspektif dan pengalaman, khususnya sebagai negara yang masih menggunakan asbes.

Philip Hazelton (APHEDA) memaparkan kampanye penghapusan penyakit akibat asbes yang dimulai dari tingkat nasional, regional hingga global (Melbourne, 3 Maret 2024)
Diskusi panel delegasi dari Kamboja, Laos dan Vietnam terkait program kampanye penghapusan penyakit akibat asbes dan tantangan di negara masing-masing (Melbourne, 3 Maret 2024)
Darisman (LION Indonesia) mempresentasikan kampanye dan advokasi gerakan pelarangan asbes di Indonesia (Melbourne, 3 Maret 2024).
LION Indonesia bersama Apheda dan delegasi lainnya dari Serikat buruh, pemerintah dan Non-Government Organization (NGO) dari Kamboja, Vietnam dan Laos di acara Asbestos 2024 Conference (Melbourne, 3 Maret 2024).

Bertempat di Hotel Rydges, Melbourne, Asbestos 2024 Conference diselenggarakan oleh Fakultas Manajemen Asbes Australia dan Selandia Baru (FAMANZ) dan Badan Keamanan dan Pemberantasan Asbes dan Silika (ASSEA). Konferensi yang dimulai dari 3 hingga 6 Maret ini ditujukan bagi siapa saja yang berkecimpung dalam industri pengelolaan asbes dan akan memberikan manfaat bagi mereka yang terlibat dalam pengelolaan asbes, remediasi, manajemen risiko, dan mereka yang berada di garis depan hingga pengembangan kebijakan regulasi.

Selama tiga hari, Konferensi ini menampilkan berbagai pembicara dari Australia dan internasional seperti Inggris UK, New Zealand, Belanda dan berbagai negara lainnya seperti Indonesia yang diwakili oleh LION Indonesia.

Konferensi ini juga menyediakan ruang pameran besar yang menampilkan sejumlah pemasok industri yang membuktikan peluang unik untuk membangun jaringan selama konferensi. Berbagai pemasok industri seperti laboratorium untuk test asbes, pendeteksi dan monitoring debu asbes di udara hingga penyedia berbagai alat pelindung diri yang dibutuhkan dalam proses kerja untuk berhadapan dengan debu asbes yang berbahaya.

Konferensi ini merupakan satu bagian dari berbagai upaya perjuangan yang terus dilakukan oleh Australia. Meskipun konferensi ini lebih banyak membahas tentang perkembangan penelitian atau ilmu pengetahuan terkini termasuk teknologi, namun pada akhirnya semua ini adalah tentang manusia dan hak atas kesehatannya, segala upaya yang terus dilakukan adalah untuk melindungi kita sebagai manusia dan juga keadilan bagi mereka yang menjadi korban dari debu asbes yang mematikan.

You may also like...