SELARAS : Mendorong Kepemimpinan Buruh Perempuan Akar Rumput

Buruh perempuan adalah bagian dari penggerak ekonomi negara, keberadaannya berkontribusi sebagai penyumbang pajak negara, memperlancar laju industri sehingga bukan hanya ekonomi negara yang berputar, ekonomi perusahaan pun melaju sehingga pemilik modal memperoleh untung berlipat-lipat. Selain sebagai penggerak ekonomi, buruh perempuan juga masih berada dalam pusaran aktivitas domestik di rumah tangga. Buruh perempuan masih diposisikan sebagai pihak yang lebih banyak melakukan kerja domestik, kerja perawatan, dan pengasuhan karena budaya patriarki masih lekat di negara kita. Sehingga meskipun mereka berada di lingkungan perusahaan sekitar 8-12 jam sehari, saat mereka kembali ke rumah mereka juga yang lebih sering melakukan aktivitas mencuci, memasak, mengasuh anak/lansia, merapikan rumah dan lain-lain. Sederet kerja domestik tersebut oleh pemerintah kita “dianggap” bukan kerja sehingga tidak ada nilai ekonomis. Padahal ada banyak kerja yang mengubah nilai dari kotor menjadi bersih, dari berantakan menjadi rapi, dari sakit menjadi sehat, dari anak kecil tumbuh menjadi dewasa (tenaga produktif) dan seterusnya dan seterusnya.  Kondisi ini sering disebut bahwa perempuan mengalami beban ganda, yaitu tertindas di perusahaan dan tertindas dalam area domestik.

Dalam hubungan industrial, buruh perempuan juga lebih banyak terserap dalam industri padat karya seperti garmen, tekstil, dan alas kaki yang membutuhkan ketelatenan. Hingga saat ini, sekali lagi buruh perempuan “dianggap” lebih telaten, detail, penurut, bersedia diupah murah, bahkan tidak akan melakukan perlawanan jika hak-haknya dirampas. Ini merupakan stigma (pelabelan) yang juga didukung oleh budaya masyarakat bahwa karakter perempuan yang baik adalah yang santun, lembut, dan penurut karena perempuan bukanlah pencari nafkah utama dalam keluarga. Stigma-stigma itu juga menggema dalam keluarga, dipopulerkan oleh tokoh-tokoh agama, bahkan negara dan pengusaha menjaga dan “merawat” agar stigma itu tetap ada agar tetap ada kerja-kerja reproduksi sosial tanpa upah.

Pasca pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja, buruh perempuan pun terdampak regulasi yang makin melegalkan tenaga kerja informal. Nyaris tidak ada kepastian kerja dalam hubungan kerja, upah, jam kerja, tempat kerja, pun juga jaminan sosial. Kondisi ini berdampak pada tingkat kesejahteraan buruh dan keluarga menurun disertai daya beli yang merosot. Buruh perempuan juga makin sulit mengakses hak-hak maternitasnya seperti hak atas cuti haid, cuti keguguran, cuti melahirkan, dan ruang laktasi karena ketidakpastian hubungan kerja mengkondisikan buruh perempuan dalam posisi makin rentan dalam melakukan negosiasi.

Sementara itu, kebebasan berserikat sebagai salah satu upaya menaikkan posisi tawar buruh juga terdegradasi dengan Undang-Undang Cipta Kerja. Bagi buruh perempuan, berserikat adalah upaya untuk belajar dan berjuang secara kolektif. Dengan berserikat, buruh perempuan mempelajari nilai-nilai kesetaraan dalam memperjuangkan hak-hak di tempat kerja, di serikat, maupun dalam hal advokasi kebijakan. Namun, kerentanan hubungan kerja, kadang “memaksa” buruh perempuan untuk menentukan pilihan mencari kerja tambahan di luar bekerja di perusahaan, sehingga berdampak pada berkurangnya waktu untuk berserikat.

Kondisi buruh perempuan yang demikian membuat serikat buruh melancarkan program-program kesetaraan gender sebagai upaya pembekalan agar anggota-anggota perempuannya berdaya, mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup agar sanggup bernegosiasi dengan pengusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dalam kondisi kerja. Hal serupa juga dilakukan oleh Local Initiative for OSH Network (LION) Indonesia dengan menyelenggarakan Sekolah Perempuan Setara (Selaras).

Peserta SELARAS dari berbagai Federasi Serikat Buruh/Serikat Pekerja (Bandung, 26/11/2023)

Pendidikan Partisipatif dan Berkelanjutan Bagi Buruh Perempuan

Selaras merupakan sekolah partisipatif berkelanjutan yang diinisiasi LION Indonesia sebagai bentuk dukungan kepada serikat-serikat buruh untuk memunculkan kepemimpinan buruh perempuan akar rumput. Sebagai pendidikan partisipatif, metode pendidikan tidak memposisikan narasumber sebagai satu-satunya pemberi informasi, namun peserta adalah sumber pengetahuan juga sehingga elaborasi pengetahuan narasumber dan peserta menjadi padu padan yang menyenangkan dan setara. Selaras pun diselenggarakan secara berkelanjutan selama 2 minggu sekali. Setiap event, Selaras diselenggarakan 2 hari dan peserta wajib menginap agar mengikuti materi secara penuh. 

Kegiatan Pendidikan Selaras ini diikuti oleh 25 peserta perempuan yang berasal dari lintas federasi serikat pekerja dan lintas wilayah tempat kerja yaitu berasal dari Cimahi, Bandung Raya, Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Serang. Kurikulum pembelajaran dalam Selaras telah disusun sebelumnya berdasarkan masukan dari para pimpinan serikat buruh, para buruh itu sendiri, dan juga ahli-ahli gender. Dengan demikian, materi pembelajaran adalah sesuai dengan kebutuhan para buruh. Keseluruhan materi dirancang dalam seri Selaras Dasar dengan 14 materi selama 2 bulan dan Selaras Lanjutan dengan 8 materi selama 2 bulan. Jika peserta tidak mengikuti seluruh rangkaian materi pembelajaran maka dinyatakan gugur. Sebaliknya jika peserta sanggup mengikuti seluruh materi pembelajaran secara penuh maka dinyatakan lulus.

Materi pembelajaran dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan-pengetahuan sebagai buruh dan sebagai perempuan. Sebagai buruh, peserta layak mengetahui hak-hak dan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya. Sebagai perempuan, peserta membekali diri dengan pengetahuan terkait kesetaraan gender baik di tempat kerja, area rumah tangga, dan masyarakat. Materi terkait Gender base Violance, public speaking, mental health, K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), administrasi keserikatburuhan dan kefasilitatoran adalah beberapa materi yang turut mewarnai jalannya Selaras. Elis dan Adel, keduanya adalah peserta Selaras dari Cimahi menyampaikan bahwa dirinya sangat suka dengan materi public speaking, dan antusias untuk mempraktikkannya dalam setiap kesempatan baik saat aksi-aksi, maupun dalam seminar ketenagakerjaan. 

Selain itu, materi tentang global supply chain, advokasi berbasis brand, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) berperspektif gender, dan manajemen aksi adalah materi-materi yang tidak terlewatkan untuk dikupas tuntas. Secara sepintas, materi pembelajaran ini dirasa berat, namun berdasarkan pengakuan peserta tidaklah demikian. Kenapa? Karena metode pengelolaan kelas dikemas secara menarik dan partisipatif dengan role play, kerja kelompok, praktik menulis, presentasi, eksplorasi lapangan, tanya jawab, talkshow, dan lain-lain. Metode ini mensyaratkan fasilitator yang lincah dan humble, sehingga suasana kelas menyenangkan dan selalu dinanti. Dalam setiap penutupan di tiap event, peserta juga bebas mengkoreksi dan memberi masukan untuk event Selaras berikutnya. Pelibatan peserta dalam memberi masukan terkait pengelolaan kelas, kemudian menjadi kesepakatan bersama, dan dipatuhi secara bersama-sama.

Bagi peserta Selaras, pendidikan ini dikemas sistematis dan mempunyai target yang jelas untuk mendorong kepemimpinan buruh perempuan. Hal ini senada dengan yang disampaikan Yanti (Bogor) berikut ini. “Saya bahagia memperoleh kesempatan pendidikan Selaras ketemu dengan peserta lintas serikat dan kita membangun keakraban.” Sementara Riani, salah satu peserta Selaras dari Jakarta menyampaikan bahwa “pendidikan Selaras menyenangkan dan membuat saya lebih percaya diri mempraktikkan pengetahuan saya di tempat kerja dan organisasi, saya juga bangga sudah berpraktik menjadi fasilitator di organisasi saya.” Kebanggaan serupa juga disampaikan oleh Fitri, peserta Selaras dari Bekasi yang berkomitmen mengikuti Selaras secara penuh karena ingin berpraktik menjadi fasilitator di basis-basisnya. Fitri juga menyampaikan bahwa sebaiknya pendidikan Selaras nanti diadakan lagi, tidak hanya untuk angkatan saat ini, agar semakin banyak penerima manfaat.

Hal khusus yang juga diterapkan dalam pendidikan Selaras adalah coaching atau pendampingan peserta. Coaching dilakukan oleh Tim LION di antara event Selaras dengan Selaras berikutnya. Peserta mendapat tugas untuk menulis setiap hari terkait kondisi kerja, tentang serikat buruh, dan hal-hal lain yang ingin dieksplorasi oleh peserta. Hal ini melatih peserta untuk menuangkan gagasan-gagasan dan mendokumentasikan kejadian-kejadian. Tim LION memposisikan diri sebagai kawan diskusi yang asik sehingga tidak ada beban bagi peserta. Coaching juga dilakukan dengan mendorong peserta Selaras mempraktikkan pengetahuan yang didapat untuk dibagikan kepada anggota serikatnya masing-masing. Sejauh ini, peserta Selaras telah dan bersiap diri menjadi fasilitator-fasilitator yang handal di masing-masing serikatnya. Praktik baik ini merupakan upaya menumbuh-kembangkan bibit-bibit kepemimpinan buruh perempuan akar rumput yang sanggup mewujudkan kemerdekaan sejati kaum perempuan. Tim LION mengucapkan terima kasih kepada SPN, FGSPB, FPPB KASBI Bandung Raya dan Cimahi, FSBPI, FSEBUMI, FBTPI, FSERBUK, dan SGBN yang bersedia menjadi bagian dalam gerakan pembebasan kaum perempuan. Hormat mendalam.

*Jumisih – Koordinator program SELARAS – LION Indonesia

You may also like...