Amerika Melarang Asbes, Penyebab Kanker Mematikan

Amerika telah mengumumkan larangan terhadap satu-satunya bentuk asbes yaitu chrysotile yang digunakan atau diimpor ke Amerika, beberapa dekade setelah lebih dari 50 negara menghentikan penggunaan bahan mineral penyebab kanker tersebut.

Menurut rilis pada 18 Maret 20241, keputusan ini adalah yang pertama berdasarkan Undang-Undang Pengendalian Zat Beracun (TSCA). Asbes chrysotile—yang menimbulkan risiko kesehatan serius, termasuk kanker paru-paru dan mesothelioma—ditemukan dalam produk seperti diafragma asbes, gasket lembaran, dan produk gesekan kendaraan (rem dan kopling). Larangan ini sejalan dengan inisiatif Cancer Moonshot dari Presiden Biden, yang bertujuan untuk mengurangi dampak kanker terhadap kesehatan masyarakat.

Meskipun penggunaan asbes telah menurun selama beberapa dekade di AS, paparan asbes dikaitkan dengan lebih dari 40.000 kematian di AS, menurut EPA. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terpapar asbes dapat terkena kanker paru-paru, mesothelioma, kanker ovarium, dan kanker laring.

Michael S. Regan, Administrator Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA) menyatakan bahwa “Di bawah kepemimpinan presiden, EPA telah bekerja dengan cepat untuk mengembalikan program keamanan bahan kimia negara ke jalurnya dan akhirnya mewujudkan perlindungan undang-undang tahun 2016. Tindakan ini hanyalah permulaan saat kami berupaya melindungi seluruh keluarga, pekerja, dan komunitas Amerika dari bahan kimia beracun.” Lebih lanjut dia juga menambahkan bahwa “Ilmu pengetahuannya jelas. Asbes dikenal sebagai karsinogen yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. Presiden Biden memahami bahwa kekhawatiran ini telah terjadi selama beberapa generasi dan berdampak pada kehidupan banyak orang. Itu sebabnya EPA sangat bangga menyelesaikan larangan penggunaan asbes yang sudah lama diperlukan ini,”

Langkah penting yang diambil oleh EPA untuk melarang asbes tersebut tidaklah mudah, setidaknya mereka membutuhkan waktu hingga tiga dekade. Meskipun telah terbukti bahwa tidak ada nilai ambang batas yang aman dari paraparan asbes, berbagai upaya untuk melarang asbes beberapa kali berhasil diblok oleh industri.

AFL-CIO, federasi buruh terbesar di AS mengapresiasi peraturan larangan dari EPA ini dalam memberikan pekerja tetap aman dan sehat saat bekerja. Kata federasi tersebut dalam sebuah pernyataan2. Namun, meskipun ini merupakan langkah maju yang penting, tindakan yang diambil pada hari Senin (18 Maret 2024) ini tidak menghilangkan semua jenis serat asbes dan tidak mengatasi “warisan” asbes yang terdapat pada bangunan dan infrastruktur tua di negara tersebut.

Hal yang hampir senada juga disampaikan oleh Presiden Organisasi Kesadaran Penyakit Asbes (ADAO) Linda Reinstein yang menyebut bahwa peraturan EPA tersebut sebagai “tonggak penting” tapi bukan garis akhir, dan meminta EPA dan Kongres juga perlu berbuat lebih banyak terhadap asbes3.

ADAO mennggangpa meskipun ini merupakan langkah maju yang penting, cakupannya masih terbatas. Peraturan ini hanya menangani satu dari enam serat asbes, dan hanya berlaku untuk enam kasus penggunaan, sehingga membuka pintu bagi jenis asbes lain dan penerapan lain dari bahan kimia beracun ini agar tetap legal di masa depan. Kami juga khawatir dengan ketidakkonsistenan masa transisi antara industri dan korporasi.

Yang terakhir, peraturan ini tidak membahas masalah asbes yang sudah ada, yang dapat ditemukan di rumah, sekolah, dan tempat kerja di seluruh negeri. Kami berterima kasih atas kerja EPA, namun hanya pelarangan penuh yang akan mengatasi semua masalah ini.

1 https://www.epa.gov/newsreleases/biden-harris-administration-finalizes-ban-ongoing-uses-asbestos-protect-people-cancer

2 https://aflcio.org/press/releases/afl-cio-applauds-biden-administrations-rule-protect-workers-banning-use-chrysotile

3 https://www.asbestosdiseaseawareness.org/newsroom/blogs/the-epas-chrysotile-asbestos-partial-ban-a-major-milestone-but-not-the-finish-line/